CARI JODOH (sebuah renungan thanks to Haya)
Malam yang senyap tak begitu sunyi di tulis tahun 2008-2010 sebuah renungan
“ yu harus di syukuri”
“kami dukung yu” kata teman-temanku yang putera,entah mengapa aku agak enek mendengarnya.Ah, bersyukur karena masih ada yang menyukai?. Tapi aku tak perlu itu saat ini. Apa aku telah buta?
Aku punya criteria dan target yang pasti untuk menikah,walau aku belum tahu kapan Allah akan berikan jodoh itu untukku. Begitu langkahkah cewek di organisasi ini?.sehingga aku harus di jodoh-jodohkan
“Bersyukur atas apa?”
Mungkin setua bapakku, mahu ngomong apa aku sama bapakku?jauh-jauh merantau untuk menuntut ilmu,dapatnya jodoh.
Wanita juga punya hak untuk memilih calon yang ia sukai,aku punya criteria sendiri yang akan jadi calonku,aku juga punya hak untuk menolak. Kriteriaku itu: Seorang yang dicintai Allah karena amalan-amalannya.dia tak perlu berpendidikan tinggi tapi kualitas keagamaannya yang luar biasa,seorang yang sederhana. Dan aku yakin akan sesuai dengan kualitas diriku.jadi aku tak perlu sok tahu akan jodohku.
Ah, yang jelas aku sudah sampai ke Magelang .
“Kok,jadi ngene kang!”
“keleru itu”aku protes pada teman-temanku yang mengajakku ke Magelang yang semuanya putera
Itu bahasa jawa,aku hanya sok tahu menirukan mereka,aku merasa nyasar datang ke Magelang,dan bertemu bapak itu. Ya bapak yang akan mereka jodohkan denganku.bapak yang sms yang menyuruhku datang ke Magelang.
“ah, setua bapakku?”
Lebih baik aku pulang ke Jogja lagi,aku kesini bukan untuk cari jodoh.lagian Borobudur masih jauh dari. Banyak orang-orang baru yang ku kenal sejak aku menginjakkan kaki ke jawa, mereka semua baik, bahkan ada yang menyelimutiku waktu badanku panas,mematikan lampu saat ku mulai memejamkan mata,membangunkanku untuk sholat lail.aku di inapkan di kos cewek yang mereka juga tidak ku kenalSetiap waktu harus menyesuaikan dengan lingkungan baru,mengambil hati orang-orang yang baru ku kenal.
“Tega banget sih biarin aku pulang sendirian,mana belum tahu jalannya”
“maaf yu,sudah biasa jalan sendirain toh.Cuma magelang-jogja yu.ga jauh”
Aku tak pernah berharap saat ini,ada pangeran yang menemaniku dan melindungiku. Aku bisa jaga diri,aku bisa pergi kemana saja sendiri.cukup penjagaan Allah bagiku,cukup dengan 2 malaikat yang selalu menjagaku.aku juga menguasai ilmu bela diri.”lariiiii” itu senjata ampuh.ah,memang aku sering berhadapan dengan orang iseng di terminal aku terlalu berani menjelajahi pulau jawa sendiri termasuk Jakarta yang cukup rawan.
Aku melihat si kaca mata yang menawan anak LIPIA, waktu aku di Jakarta,aku hanya sekedar melihat anak-anak mengaji,bukan untuk cari jodoh.dimana-mana orang bertanya. Kapan nikah,kapan kerja…kapan dan kapan.bukan aku memasang target terlalu tinggi,tapi memang aku tak ingin mendahui Takdir Allah atasku.aku tak mahu jatuh cinta saat ini.
Selama ini Allah menagguhkan jodohku karena Allah ingin melihat bagainmana cara aku menggapainya.apa dengan cara ber sms ria,mengumbar rayuan.jodoh yang akan ku dapatpun akan seperti itu nantinya.aku tak mahu.aku yakin Muslimah yang baik akan dapat yang baik,maka ku sibukkan dengan memperbaiki diri
Di Bandung akupun ingin di jodohkan dengan seseorang.lulusan pondok pesantren Tasik.aku ingin kuliah bukan cari jodoh.perasaan apalagi ini?apa aku jatuh cinta? Tidak,itu tidak boleh terjadi.seorang perokok?aku tak boleh turunkan targetku yang membuat amalanku pun menurun.aku tak boleh jatuh cinta di Jogja.
Aku tak mudah tergoda dengan paras,aku juga bukan tipe yang suka memilih-milih.yang penting pribadinya,rumah pribadi,mobil pribadi.kalau ini mah kidding aja
Di masjid jogokariyan ada seorang ummahat yang juga mencarikan jodoh untukku, kenapa ini?aku memang salah sempat bilang”Beri aku 10 pemuda sholeh,kaya,aku pilih kuliah”
Dulu,aku pernah suka seorang,tapi dia memang belum sholeh,aku berharap dia berubah.aku akui sebab kasihanlah yang membuat aku jatuh cinta padanya,walau belum pernah melihatnya,belum bertemu sama sekali.tapi kemudian kertas-kertas rangkaian kata yang ditulis olehnya habis di bakar Murobbiku.
Di jawa timur aku berkeliling ke beberapa tempat,disana kulihat seorang ustadz muda seumuran denganku.aku belajar padanya.ustadz selalu mengingatkanku ”mbak jaga hati” ku lihat ustadz itu selalu menundukkan pandangan jika berpapasan denganku dan dengan semua cewek.dia sangat sederhana,naik sepeda sebelum aku pulang ke jogja ustadz berpesan “mbak jika sedih bacalah Alquran beserta terjemhannya”ustadz juga bilang
“Berjalannya seorang muslimah ke luar rumah dalam rangka menuntut ilmu itu juga merupakan ikhtiar dalam mencari jodoh”
ustadz muda itu telah mengamalkan ilmunya dengan mengajarkannya,sangat sederhana.hati nuraniku berkata itu kriteriaku.di Jakarta aku bertemu seorang Dai,dia memberi Tausiah padaku dengan bahasa daerah.dia suka memasak, membersihkan rumah.indah sekali melihat pemandangan itu.seorang Dai yang begitu sederhana hati nuraniku berkata Seorang yang sederhana itu pesan temanku,Tanya hati nurani.maka jika kau jatuh cinta,Tanya hati nuranimu.selebihnya itu adalah nafsu
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar