Tulisan disampaikan oleh: Maida Rahmania dalam presentasi kuliah psikologi sosial emosi bagian anak pra sekolah
Di tengah perkembangan teknologi informasi yang pesat, kita tidak dapat melepaskan diri dari arus perkembangan tersebut sehingga penting untuk melakukan penyesuaian dan pemanfaatan secara tepat.
Perkembangan teknologi tersebut telah merambah pada dunia anak yang dikemas sebagai permainan, seperti komputer. Dalam hal penggunaan komputer pada anak usia dini, terdapat pro dan kontra terhadap dampak yang diakibatkannya. Beberapa dampak negatif cenderung mengarah pada terancamnya perkembangan social anak, yaitu menghambat proses interaksi anak sebaya satu sama lain dikarenakan waktu yang tersita untuk bermain komputer. Tanpa mengurangi keunggulan permainan tradisional (seperti dakon, petak umpet), permainan dengan komputer sebenarnya cenderung memiliki dampak positif bagi perkembangan anak usia dini. Sedangkan dampak negatifnya sebenarnya dapat diantisipasi dan diminimalisir dengan pemanfaatan yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan usia, baik dalam hal perangkat lunak yang digunakan, program yang dipakai, waktu kapan untuk menggunakan dan berapa lama frekuensi, serta tujuan dari penggunaan. Hal ini terbukti dari penelitian yang dilakukan oleh Heft dan Swaminathan bahwa ternyata penggunaan komputer pada anak pra sekolah yang diberlakukan aturan main pada mereka (kapan mereka boleh menggunakan dan sistemnya bergantian) tidak menyebabkan anak terkucil dari interaksi dengan sesamanya. Justru dalam penggunaan komputer pada anak pra sekolah pada penelitian ini, telah menciptakan berbagai bentuk pola interaksi baik antar teman sebaya maupun dengan guru. Sehingga sebagai orang tua maupun guru, kita tidak perlu khawatir untuk mengenalkan komputer pada anak didik kita sedini mungkin.
Dibandingkan dengan kemungkinan dampak negatif yang dapat muncul, sebenarnya banyak keuntungan yang dapat diperoleh dari penggunaan komputer pada anak usia dini. Yang perlu dilakukan hanya arahan dan bimbingan yang tepat dari orang tua atau guru mengenai penggunaan komputer, sehingga kemungkinan dampak negatif tidak muncul. Kecanduan bermain komputer bisa terjadi terutama karena sejak awal orangtua tidak membuat aturan bermain komputer. Seharusnya, menurut Rizal, orangtua perlu membuat kesepakatan dengan anak soal waktu bermain komputer. Misalnya, anak boleh bermain komputer sepulang sekolah setelah selesai mengerjakan PR hanya selama satu jam. Waktu yang lebih longgar dapat diberikan pada hari libur.
Pengaturan waktu ini perlu dilakukan agar anak tidak berpikir bahwa bermain komputer adalah satu-satunya kegiatan yang menarik bagi anak. Pengaturan ini perlu diperhatikan secara ketat oleh orangtua, setidaknya sampai anak berusia 12 tahun. Pada usia yang lebih besar, diharapkan anak sudah dapat lebih mampu mengatur waktu dengan baik.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar